Corona dan Warga (2)

Melanjutkan "Corona dan Warga" dan telah berselang 4 bulan. Lama juga. Masih juga berkutat dalam kungkungan pandemi ini.

Tidak banyak perubahan signifikan yang ditemui seperti awal-awal pandemi ini, paling-paling hanya berkutat dengan work from home, physical distancing, dan anjuran untuk mematuhi protokol kesehatan. Walaupun ada yang melanggar dan pura-pura lupa, serta sudah tak acuh dengan virus juga sudah banyak jumlahnya.

***

Berhubung saat ini sedang menjalankan magang berbasis daring alias work from home, banyak sekali yang ingin saya ceritakan. Dengan sitasi yang kacau dan berbasis seingatnya, mohon dimaafkan. Banyak sekali yang meromantisasi kegiatan work from home sebagai tindakan pencegahan penyebaran virus yang ternyata airborne ini. Sebenarnya sudah lama disampaikan, hanya saja baru diakui akhir-akhir ini. Ah, yang ini kita bahas terakhir saja. Kembali pada romantisasi WFH, memang benar adanya bahwa aktivisme ini merupakan pencegahan paling ampuh. Namun, pada aktivisme ini terjadi sebuah krisis yang menurut saya sangat darurat, yaitu krisis dalam interaksi sosial.

Salah satu elemen interaksi sosial adalah berkomunikasi. Menyampaikan dan menerima pesan, dengan segala gangguannya secara langsung melalui tatap muka tanpa perantara. Dikarenakan adanya anjuran untuk work from home dan untuk keluar kota susah karena adanya pandemi ini, ruang interaksi menjadi terasa terbatas. Disinilah mula krisis dalam interaksi sosial. Manusia sangat perlu untuk melakukan kegiatan komunikasi interpersonal secara tatap muka karena adanya dua jenis komunikasi, yaitu verba dan non-verbal.

Dalam komunikasi daring seperti video call komunikasi non-verbal mendapatkan ruang yang sangat terbatas, terutama ukuran layar yang tidak dapat menangkap setidaknya setengah dari tubuh kita. Terbatasnya ruang dalam menyampaikan pesan komunikasi non-verbal membuat kita terasa canggung, bukan canggung karena belum akrab, tetapi canggung karena tidak dapat menerima pesan yang mendekati tepat disebabkan tidak tertangkapnya pesan-pesan non-verbal seperti gestur anggota tubuh selain muka.

Salah satu hal dalam komunikasi interpersonal non-verbal yang susah didapati dalam komunikasi daring adalah respon refleks terhadap suatu pesan untuk menunjukkan keterbukaan, empati, dukungan, dan lain-lainnya.

Satu lagi gangguan yang paling menyebalkan dalam komunikasi daring, gangguan pada jaringan. Dalam video call maupun voice call diperlukan jaringan yang kuat, agar pesan yang diterima lancar. Tidak putus-putus. Kalau ini, uang pun ikut bicara.

Pada pekerjaan berbasis proyek, revisi terasa banyak sekali karena harus mengirimkan satu persatu. Melelahkan.

Setelah komunikasi interpersonal yang terbatas, berikutnya yang tak kalah penting, yaitu ruang. Definisi ruang sebenarnya bisa sangat bias. Ruang tak selalu berbentuk trimatra, tetapi juga maya seperti internet. Work from home sebenarnya bisa menjadi momentum untuk adaptasi dan pemaksimalan manfaat ruang tak berdimensi ini. Akan tetapi, kita masih canggung. Bagaimanapun, tetap saja interaksi interpersonal secara fisiktrimatra sangat diperlukan. Seperti pada paragraf sebelumnya

Baik dalam ruang fisik maupun maya, perpindahan merupakan suatu keharusan. Dalam ruang fisik, gampangnyaperpindahan dilakukan oleh sistem gerak tubuh. Sedangkan pada ruang maya, perpindahan disimulasikan dengan perpindahan room. Sedekat-dekatnya dengan pengalaman fisik, tetap saja, simulasi tetaplah simulasi.

***

Physical distancing. Tidak seromantis work from home. Bisa dikatakan seperti itu karena kewajiban bekerja yang ex-situ memaksa kita untuk tidak mengkungkung diri di dalam tempat singgah. Setidaknya perjuangannya tidak seberat work from home karena masih bisa melakukan interaksi interpersonal secara riil. Physical distancing juga merupakan salah satu protokol kesehatan yang acapkali kelupaan. Berkomunikasi dengan jarak yang lebih dekat dari 1,5 meter memang lebih nyaman, apalagi dengan yang tersayang.

Fungsi fisik ruang dalam bentuk riil masih terasa. Sehingga, gangguan-gangguan yang sebenarnya lumayan vital agak terabaikan. Penggunaan masker, jaga jarak, tidak boleh bersalaman. Bersalaman yang dulunya selalu kita lakukan saat bertemu, saat ini tidak bisa dilakukan. Alih-alih hanya melambaikan tangan. Penggunaan masker membuat kejelasan intonasi sedikit terganggu, dikarenakan harus menggunakan suara yang lebih tinggi dan otomatis kita meninggikan intonasi kita, sehingga terkesan lebih depressing. Tidak hanya kejelasan intonasi, tapi kejelasan pengucapan huruf-huruf yang memiliki rupa bunyi yang hampir sama, misal pengucapan "b" dan "p". Mirib.

***

Geram sebenarnya melihat teman sejawat dengan nyaman nongkrong di tempat keramaian. Terlebih karena ketidaknyamanan yang disampaikan di atas, melepas masker saat bertukar cerita. Memang lebih nyaman begitu. Tetapi, bukankah lebih baik kita tidak egois untuk sebentar saja? Jikalau terasa terlalu lama, anggaplah sebentar.

Pakai sanitizer setiap saat sebelum menyentuh ini itu pun sebenarnya juga merepotkan. Membuat tangan kering pula. I know that we can't stand this new behavior, but we should be.

***

This pandemic sucks our half year now. Would you like to just suddenly get rid off? Please?

Banyak lagi sebenarnya yang ingin dibicarakan mungkin dengan judul yang hampir sama, semoga bisa menulis lagi. Sudah pusing. Nanti, jika ada tambahan, akan ditambah.

Comments

Popular posts from this blog

Mengkaji #MALANGDARINOL

Menelisik Estetika Pemuda-Pemudi Kota Malang

Mengarsip Budaya Kontemporer Indonesia