Menelisik Estetika Pemuda-Pemudi Kota Malang
Setelah sekian lama tidak menulis, akhirnya saya mulai menulis lagi. Bukannya kenapa-kenapa, tetapi untuk melepas keresahan saya karena tidak bisa ikut studi ekskursi bersama teman-teman seangkatan. Meskipun tempat yang dikunjungi sama seperti tempat yang saya kunjungi seminggu sebelum berangkatnya teman-teman saya seangkatan ke sana. Tapi, ya sudah, tak apa.
Beberapa waktu yang lalu, teman saya mengajak saya untuk mengikuti seminar di Jakarta. Tetapi, pendaftarannya melalui pengumpulan paper yang sebenarnya sudah telat. Kebetulan topik yang diangkat pada seminar yang hendak diadakan ini membahas tentang budaya visual--matakuliah favoritku!
Membahas budaya visual. Budaya visual jangkauannya sangat luas, dari estetika hingga ekonomi pun dapat di jangkau. Menarik. Budaya visual menurut terjemahan dosen saya dari wikipedia adalah
Budaya visual bisa terbentuk dari respon suatu kelompok masyarakat terhadap suatu isu yang berkembang di lingkungannya yang dipengaruhi oleh nilai-nilai yang ada di kelompok masyarakat tersebut. Budaya visual bisa sengaja dibuat atau tidak sengaja terbuat. Tidak kah kalian sadar kalau tulisan "Jual Bensin" itu juga produk budaya visual?
Di sekitaran akhir tahun 2017 atau awal tahun 2018, saya membuat proyek yang saya beri nama "Iya, Oke, Siap, Sip". Proyek ini berbentuk stiker. Gaya visual yang saya pakai adalah gaya ilustrasi dan tipografi yang tren pada tahun 70-90an. Saya buat sedemikian rupa karena pada saat itu gaya visual dari grafis hingga fesyen sedang ramai-ramainya bergaya 70-90an. Proyek pertama bertemakan kehidupan sehari-hari, sedangkan proyek kedua (rilis Bulan Maret--merespon ramainya perayaan gerakan feminisme di dunia, termasuk Indonesia). Menurut saya, maraknya gaya-gaya tahun tersebut masuk ke kota ini ditandai dengan munculnya online thrift shop yang menjual produk fesyen bekas yang dicuci kembali, sehingga nampak bersih dan steril.
Saya coba memperkenalkan proyek ini di acara yang artsy yang diadakan di bekas pabrik keramik di daerah Dinoyo yang dulu pernah saya kunjungi saat kelas 2 SD. Stereotip pengunjung acara tersebut sangatlah terbaca, selain mahasiswa seni rupa dan desain, banyak juga segolongan anak artsy yang datang. Saya amati stan-stan mana saja yang ramai dikunjungi oleh beberapa stereotip yang saya simpulkan sendiri.
Bukannya apa-apa, tetapi proyek yang saya displai dan jual ini tidak mendapatkan respon sama sekali oleh kumpulan pemuda-pemudi dengan stereotip yang saya simpulkan sendiri itu. Padahal, beberapa proyek yang seperti ini di Jakarta atau pun kota lain mendapatkan respon yang baik dari pemuda-pemudinya. Di sini, digubris saja tidak, apalagi dibeli.
Miris. Tetapi tidak apa, tidak ada percuma. Meski tidak terjual, saya bisa riset tipis-tipis di sini. Menurut saya, yang menyebabkan proyek responsif saya tidak direspon memiliki beberapa penyebab, yaitu:
Saya akan jelaskan satu-persatu penyebab-penyebab yang saya sebutkan di atas. Poin ①, hal ini mungkin menjadi alasan utama dan melatarbelakangi poin ③. Mengapa demikian? Lihat saja pameran-pameran seni rupa di Kota Malang dan sekitarnya (kecuali pameran besar seni rupa yang diadakan di Kota Batu beberapa waktu yang lalu). Gayanya masih sangat modern, belum ada gebrakan baru, baik dalam bentuk lukisan atau pun instalasi. Hal ini tentu saja berpengaruh pada desain grafis yang berkembang di Kota Malang. Dibandingkan dengan kota tetangga yang berjarak 5 jam perjalanan karena kemacetan di tengah perjalanan ini sangatlah jauh. Saya berpikir, jika lembaga desain grafis di sini ingin memasifkan animasi dan boardgame-nya. Sehingga, hal-hal yang mendasar atau yang sangat melekat dengan desain grafis secara tidak sengaja teranaktirikan.
Untuk menanggulangi permasalahan pada poin ①, mungkin bisa diatasi dengan banyak gerakan-gerakan kecil yang berani mendobrak. Entah itu di bidang seni rupa maupun desain. Keduanya saling berhubungan. Dengan banyaknya gerakan-gerakan mendobrak, secara perlahan, "mungkin", dapat menumbuhkan kesadaran visual dan estetika baru pada pemuda-pemudi Kota Malang hingga masyarakat umum yang tinggal di kota ini.
Poin ② merupakan kesimpulan dari yang saya dapat di kehidupan sehari-hari. Karena pernah tinggal di daerah perkotaan padat, seperti Tangerang dan Surabaya, saya dapat membandingkan tingkat kerumitan masalah yang ada di kota-kota tersebut. Hal-hal sepele, seperti cuaca yang panas, mungkin sangat memengaruhi tingkat kepenatan penduduk di sana. Hal-hal sepele saja berpengaruh, apalagi hal-hal yang rumit seperti ketimpangan ekonomi dan sosial di sana? Tentu saja lebih membuat kepala mereka pening, sehingga mereka perlu sebuah tempat pelarian, salah satunya dengan hiburan visual yang menggelitik.
Poin ③, sepele tapi punya pengaruh juga. Poin ini merupakan akibat dari poin ①. Karena tidak biasa, jadinya malu-malu untuk menyalurkan ekspresi.
Sudah ini saja yang saya sampaikan, jika ada yang perlu ditambahkan, ayo dibincangkan!
Beberapa waktu yang lalu, teman saya mengajak saya untuk mengikuti seminar di Jakarta. Tetapi, pendaftarannya melalui pengumpulan paper yang sebenarnya sudah telat. Kebetulan topik yang diangkat pada seminar yang hendak diadakan ini membahas tentang budaya visual--matakuliah favoritku!
Membahas budaya visual. Budaya visual jangkauannya sangat luas, dari estetika hingga ekonomi pun dapat di jangkau. Menarik. Budaya visual menurut terjemahan dosen saya dari wikipedia adalah
Budaya Visual sebagai subjek akademis adalah bidang studi yang umumnya mencakup beberapa kombinasi dari kajian budaya, seni sejarah, teori kritis, filsafat, dan antropologi, dengan berfokus pada aspek budaya yang mengandalkan gambar visual.Menurut saya, harusnya kata yang digunakan bukan "mengandalkan", tetapi "menggunakan". Tapi, tak apa lah. Saya jelek di kemampuan verbal, makanya saya belajar menulis.
Budaya visual bisa terbentuk dari respon suatu kelompok masyarakat terhadap suatu isu yang berkembang di lingkungannya yang dipengaruhi oleh nilai-nilai yang ada di kelompok masyarakat tersebut. Budaya visual bisa sengaja dibuat atau tidak sengaja terbuat. Tidak kah kalian sadar kalau tulisan "Jual Bensin" itu juga produk budaya visual?
***
Di sekitaran akhir tahun 2017 atau awal tahun 2018, saya membuat proyek yang saya beri nama "Iya, Oke, Siap, Sip". Proyek ini berbentuk stiker. Gaya visual yang saya pakai adalah gaya ilustrasi dan tipografi yang tren pada tahun 70-90an. Saya buat sedemikian rupa karena pada saat itu gaya visual dari grafis hingga fesyen sedang ramai-ramainya bergaya 70-90an. Proyek pertama bertemakan kehidupan sehari-hari, sedangkan proyek kedua (rilis Bulan Maret--merespon ramainya perayaan gerakan feminisme di dunia, termasuk Indonesia). Menurut saya, maraknya gaya-gaya tahun tersebut masuk ke kota ini ditandai dengan munculnya online thrift shop yang menjual produk fesyen bekas yang dicuci kembali, sehingga nampak bersih dan steril.
Saya coba memperkenalkan proyek ini di acara yang artsy yang diadakan di bekas pabrik keramik di daerah Dinoyo yang dulu pernah saya kunjungi saat kelas 2 SD. Stereotip pengunjung acara tersebut sangatlah terbaca, selain mahasiswa seni rupa dan desain, banyak juga segolongan anak artsy yang datang. Saya amati stan-stan mana saja yang ramai dikunjungi oleh beberapa stereotip yang saya simpulkan sendiri.
Bukannya apa-apa, tetapi proyek yang saya displai dan jual ini tidak mendapatkan respon sama sekali oleh kumpulan pemuda-pemudi dengan stereotip yang saya simpulkan sendiri itu. Padahal, beberapa proyek yang seperti ini di Jakarta atau pun kota lain mendapatkan respon yang baik dari pemuda-pemudinya. Di sini, digubris saja tidak, apalagi dibeli.
Miris. Tetapi tidak apa, tidak ada percuma. Meski tidak terjual, saya bisa riset tipis-tipis di sini. Menurut saya, yang menyebabkan proyek responsif saya tidak direspon memiliki beberapa penyebab, yaitu:
- Pemuda-pemudi yang saya klasifikasi dalam stereotip tertentu kurang dalam hal referensi visual
- Tidak merasakan kejenuhan seperti mereka yang berada di kota-kota besar
- Gengsi--ingin terlihat gaul dengan gayanya yang trendi dan kekinian
Saya akan jelaskan satu-persatu penyebab-penyebab yang saya sebutkan di atas. Poin ①, hal ini mungkin menjadi alasan utama dan melatarbelakangi poin ③. Mengapa demikian? Lihat saja pameran-pameran seni rupa di Kota Malang dan sekitarnya (kecuali pameran besar seni rupa yang diadakan di Kota Batu beberapa waktu yang lalu). Gayanya masih sangat modern, belum ada gebrakan baru, baik dalam bentuk lukisan atau pun instalasi. Hal ini tentu saja berpengaruh pada desain grafis yang berkembang di Kota Malang. Dibandingkan dengan kota tetangga yang berjarak 5 jam perjalanan karena kemacetan di tengah perjalanan ini sangatlah jauh. Saya berpikir, jika lembaga desain grafis di sini ingin memasifkan animasi dan boardgame-nya. Sehingga, hal-hal yang mendasar atau yang sangat melekat dengan desain grafis secara tidak sengaja teranaktirikan.
Untuk menanggulangi permasalahan pada poin ①, mungkin bisa diatasi dengan banyak gerakan-gerakan kecil yang berani mendobrak. Entah itu di bidang seni rupa maupun desain. Keduanya saling berhubungan. Dengan banyaknya gerakan-gerakan mendobrak, secara perlahan, "mungkin", dapat menumbuhkan kesadaran visual dan estetika baru pada pemuda-pemudi Kota Malang hingga masyarakat umum yang tinggal di kota ini.
Poin ② merupakan kesimpulan dari yang saya dapat di kehidupan sehari-hari. Karena pernah tinggal di daerah perkotaan padat, seperti Tangerang dan Surabaya, saya dapat membandingkan tingkat kerumitan masalah yang ada di kota-kota tersebut. Hal-hal sepele, seperti cuaca yang panas, mungkin sangat memengaruhi tingkat kepenatan penduduk di sana. Hal-hal sepele saja berpengaruh, apalagi hal-hal yang rumit seperti ketimpangan ekonomi dan sosial di sana? Tentu saja lebih membuat kepala mereka pening, sehingga mereka perlu sebuah tempat pelarian, salah satunya dengan hiburan visual yang menggelitik.
Poin ③, sepele tapi punya pengaruh juga. Poin ini merupakan akibat dari poin ①. Karena tidak biasa, jadinya malu-malu untuk menyalurkan ekspresi.
Sudah ini saja yang saya sampaikan, jika ada yang perlu ditambahkan, ayo dibincangkan!
Comments
Post a Comment