Mengkaji #MALANGDARINOL

Hashtag yang tertera di judul itu tersebar di beberapa sudut Kota Malang melalui beberapa medium beberapa bulan yang lalu (sekitar bulan September 2018) merupakan respon kegeraman dari masyarakat Kota Malang atas ditangkapnya 41 anggota DPRD Tingkat II, jumlah yang sangat banyak karena hanya menyisakan 2 anggota saja. Miris kan? Saya mengangkat topik ini karena terpancing dari beberapa dokumentasi yang diunggah oleh Wahyu Budiman Dasta di website milik visual jalanan.

Menurut pencarian yang saya lakukan beberapa hari yang lalu, saya menemukan siapa penggagas hashtag ini, yaitu Gerakan Moral Nusantara yang merupakan sebuah gerakan yang sebenarnya merupakan sebuah wacana yang sangat besar. Gerakan ini digagas oleh warga yang merasa prihatin dengan kasus yang saya sebutkan di atas. Kumpulan warga yang kritis ini mengharapkan adanya sebuah revolusi mental yang berlaku di lingkup manapun.

***

Setelah mendiskusikan hal ini kepada beberapa orang, saya menyimpulkan bahwa gerakan ini adalah gerakan politik terselubung yang enggan saya gali lagi. (Perlu beberapa waktu untuk memikirkan lanjutan isi unggahan ini). Karena yang diharapkan dari gerakan ini adalah adanya supremasi seorang tokoh yang diusung-usung membawa perubahan di tengah vakumnya tokoh yang dapat dijadikan kiblat--idola dalam berpolitik yang membawa harapan rakyat akan pemerintahan yang bersih. Mengapa saya menyimpulkan demikian? Karena melihat latar belakang organisasi ini (bukan Gerakan Moral Nusantara), membuat saya enggan untuk menelisik lebih jauh.

(Gubahan: 5:49, 18 Maret 2019 karena salah menuliskan nama, sebelum menggantinya dengan nama van Der Rohe, saya menulisnya dengan Adolf Loss)
Tetapi, strategi visual yang digunakan sangatlah menarik. Menggunakan prinsip graffiti yang menurut saya membawa semangat "melawan percepatan dengan percepatan". Terpampang bebas di jalanan. Dilihat dengan sekejap. Sangat beresiko untuk ditindih dengan yang lebih baru--milik orang lain jelasnya. Mengancam dengan keras karena pilihan media yang umumnya adalah milik pemerintah--milik orang yang berdana "wah". Peletakan hashtag dengan font kapital di proyek-proyek yang dianggap mengancam moralitas warga Malang saya nilai sangat efektif. Kesan tegas dan melawan sangat terlihat jelas. Seperti kata van Der Rohe, "Less is More", inilah yang digunakan oleh gerakan ini. Pesan yang lugas dan tegas. Membuat kita berpikir untuk memulai kembali. Ke fitrah. Ke sifat material yang apa adanya.

(Tambahan: 5:49, 18 Maret 2019)
Penggunaan material juga menarik untuk dikaji. Pada paragraf sebelumnya, saya mengatakan bahwa pemilihan media kampanye gerakan ini sangat efektif. Baik penyampaian pesan secara implisit, maupun eksplisit. Cukup sampai di sini, mari beralih pada materialnya. Material tidak hanya berfungsi sebagai media suatu informasi, tetapi juga dapat difungsikan sebagai sebuah informasi juga, namun bersifat implisit. Tiap material, memiliki sifatnya masing-masing. Empuk, keras, kasar, halus, kesat, berkilau, redup, apa pun itu. Itu lah sifat material, bisa dijadikan sebagai simbol berbagai macam sifat individu. Mari menyebutkan material apa saja yang digunakan oleh kampanye ini. Seng, banner, tembok. Disebutkan berurutan sesuai dengan intensitas keterlihatan di banyak sudut kota.

Seng (Zn). Jika dirangkum, sifatnya tahan karat, tetapi mudah remuk. Menurut saya, dapat diinterpretasikan dengan sifat individu yang sebenarnya mempunyai keteguhan pendirian yang kuat, namun sekali terkena terpaan pengaruh--entah itu baik atau buruk, BRUK!, langsung membekas. Ah, mungkin ini mental kebanyakan orang-orang Indonesia saat ini yang dengan mudah terkena pengaruh-pengaruh karena mudahnya akses berita, sehingga tidak dapat menyaring mana yang baik dan mana yang buruk? Hanya mengira-ngira. Ada sanggahan mungkin?

Berikutnya, banner. Pada umumnya banner menggunakan material yang terdiri dari bahan sintetis dan serat-serat non-sintetis. Sifatnya kurang lebih sama seperti seng, tetapi tidak sekasar seng. Proses pelunturan memerlukan waktu yang cukup singkat. Penggunaan material berbeda dengan sifat yang sama dapat diindikasikan sebagai sebuah repetisi untuk mempertegas pesan yang ingin disampaikan. Separah ini kah mental kebanyakan orang Indonesia?

Jenis material terakhir. Tembok. Terdiri bahan-bahan yang keras dan mudah mengeras, batu bata, semen, beberapa bangunan mungkin memerlukan baja sebagai penyangga. Diracik dengan sedemikian rupa. Menghasilkan tembok yang kokoh. Begitu ajeg. Sama seperti mereka yang tidak mau menerima masukan apapun. Susah diatur. Manusia seperti ini juga terkadang susah untuk diajak berkonsolidasi, meski di dalam kebaikan.

Semoga dengan gertakan yang sedemikian rupa, orang-orang yang peka merasa. Menjelaskan pada yang lain. Supaya tersampaikan. Sayang sekali jika kampanye seperti ini diabaikan, diacuhkan.

Demikian tulisan saya, mungkin akan gubahan di beberapa waktu ke depan. Salam selamat!

Comments

Popular posts from this blog

Menelisik Estetika Pemuda-Pemudi Kota Malang

Mengarsip Budaya Kontemporer Indonesia