Corona dan Warga (1)

Tulisan ini dibuat sebagai urgensi keinginan menulis saja. Tetapi, boleh juga dijadikan refleksi. Tulisan ini adalah rangkuman kehidupan yang ditangkap selama menjalani imbauan pemerintah untuk melakukan social distancing. Dikarenakan saat ini, Kota Malang dan Kota Surabaya dijadikan zona merah COVID-19 oleh pemerintah daerah. Semoga selamat semua! Setidaknya, hingga pandemi ini berakhir.

Social distancing dan virus ini membuat semuanya panik. Banyak aspek kehidupan yang berubah karena virus ini. Kuasa Tuhan memang luar biasa. Manusia tidak ada apa-apanya dibanding kekuatan alam. Untuk mengatasi perubahan yang drastis dan dramatis ini, warga punya inisiatifnya masing-masing.

Pertama,
                karena adanya imbauan social distancing, sekolah dan perkuliahan, serta kantoran diliburkan. Gerakan working from home digalakkan. Artinya ada transisi sistem kerja yang awalnya sifatnya tradisional, menjadi digital. Yang dimaksudkan tradisional ini bukan membawa nilai budaya nenek moyang seperti membatik, tetapi sistem komunikasi tatap muka (secara fisik) adalah bentuk komunikasi paling lampau dan masih dilakukan oleh manusia hingga saat ini. Nilai efektivitasnya mungkin masih rendah karena kita masih belum terbiasa dengan itu. Budaya nongkrong yang akhir-akhir merebak, bisa menjadi salah satu faktor susahnya kita untuk mengadaptasi sistem komunikasi tatap muka secara non-fisik alias via video call. Tetapi, jika ditimbang-timbang tatap muka secara riil fisik memang lebih menyenangkan dibandingkan dengan via video call. Ah, seiring berjalannya waktu kita lihat saja.

Bukan hanya gerakan working from home atau sering disingkat WFH saja, ada pula sidang yang dilaksanakan melalui video call. Sidang tanpa dukungan secara riil dengan menonton si yang disidang di depan hadapan dosen-dosen. Terkadang dengan ditonton saat dijejali pertanyaan bertubi membuat yang disidang menjadi lebih gugup. Ini adalah bentuk perubahan sistem yang menurut saya cukup unik dan menarik. Jika, bahan foto masih ada, akan saya screen capture sebelum hilang.

Kedua,
             tukang mlijo atau dalam Bahasa Indonesia, tukang sayur keliling semakin banyak. Ini juga akibat dari imbauan social distancing yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat. Dikarenakan takut menjadi carrier atau tertular virus, orang-orang menjadi memiliki kecenderungan untuk mengurung diri di rumah. Untuk keluar rumah saja, mungkin perlu menguatkan mental supaya tubuh tersugesti memiliki imun yang cukup kuat untuk menangkal virus tersebut. Mungkin, penjual sayur ini terinspirasi oleh layanan ojek online yang menyediakan jasa antar makanan yang jasanya saat ini sedang on high demand. Tetapi, ini adalah inisiatif yang cukup menyegarkan bagi saya. Dikarenakan menjadi tukang mlijo agak ditinggalkan oleh orang-orang. Terutama di daerah perumahan. Tukang mlijo inilah yang menyelamatkan keadaan psikologis kita supaya tetap sehat karena kita, manusia, sebagai homo socialis, tidak bisa meninggalkan hubungan sosial, walaupun dalam keadaan genting seperti ini.

Ketiga,
             dikarenakan pandemi ini sangat cepat penyebarannya. Kita semua diimbau untuk menjaga kebersihan lebih dibandingkan biasanya. Jika biasanya kita hanya menghabiskan lima detik untuk cuci tangan atau bahkan tidak sama sekali, kali ini kita rela menghabiskan 20-60 detik untuk membersihkan tangan kita. Setelah menyentuh benda, setelah keluar rumah, sebelum makan, sebelum buang kakus, dan lainnya.

Awal-awal isu ini merebak, panic buying terjadi. Semua orang berbondong untuk membeli hand sanitizer pada awalnya. Lalu, terjadi kelangkaan pada produk satu ini karena demandnya yang kelewatan batas, sedangkan produsen tidak menyediakan penawaran yang seimbang. Diikuti dengan langkanya alkohol dari yang berkadar 70% hingga 90%, lalu saat ini hendak diikuti oleh sabun anti-bacterial dan disinfektan DIY yang sebenarnya sudah dilakukan oleh banyak rumah sakit, bahkan menjadi standar. Untuk yang ini, perubahan ini kurang baik.

Mengapa dikatakan kurang baik? Padahal ini merupakan usaha kita untuk menjaga kebersihan yang nantinya diikuti proteksi kesehatan.Tetapi, seperti yang kita ketahui, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Harga menjadi tidak stabil karena timbun-menimbun jadi marak lagi.

Keempat,
                 karena saya adalah keluaran Malang (dilahirkan di Malang, orang tua sudah sangat lama tinggal di Malang, meskipun bukan turunan Malang asli),  saya menjadi sering memasak. Mungkin karena kekhawatiran untuk keluar rumah, accidental cooking menjadi salah satu alternatif. Berlatar belakang pengalaman mencicipi rasa ini itu. Dengan bahan makanan seadanya. Biasanya accidental cooking dapat terjadi karena bahan yang apa adanya, kecelakaan saat memasak, atau keinginan untuk mendaur ulang makanan yang masih dapat dikonsumsi. Contohnya, dulu, lupa pada zaman dinasti siapa, makanan seperti nasi goreng dan es serut merupakan makanan yang dibuat secara accidental yang kemudian disukai oleh raja.

Untuk yang selanjutnya mungkin biasa saja, seperti kita menjadi sempat membaca buku-buku yang belum sempat dibaca atau menjadi sempat berolahraga. Lakukan apapun yang penting jiwa dan raga sehat. Semoga sentosa!

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mengkaji #MALANGDARINOL

Menelisik Estetika Pemuda-Pemudi Kota Malang

Mengarsip Budaya Kontemporer Indonesia