Menghakimi Buatan Sendiri
Dibuat dalam rangka mencoba mengkritisi diri sendiri, agar berimbang antara bisik-bisik tetangga dan cari kekurangan sendiri. Untuk intropeksi ke depan. Jika ditawarkan untuk menangani hal yang sama.
***
Tanggal 20 Oktober 2019, besok deadline. Mencoba connecting dot to dots, tapi pusingnya bukan main. Sampai asam lambung ikut ambil peran untuk menyuruh saya berhenti. Kepala sudah pusing dan penat. Tapi, dikejar deadline. Menjadi kurator, walaupun hanya pameran yang notabene kecil--tidak tahu nanti--tetap saja membawa tanggung jawab yang besar atas karya-karya yang dipajang. Sempat dibuat gugup dengan hasil seleksi, menghadapi pengkarya yang ternyata menyebalkan.
Coba-coba membuat program inkubasi memang beresiko tinggi sekali. Untungnya, dengan sentuhan kecil Tuhan Yang Maha Esa dan bantuan teman-teman-teman-teman-teman sekalian. Pameran yang berjalan di dalam gedung andalan jurusan kami lancar. Untuk urusan di luar gedung, itu sudah di luar kuasa. Memang tidak ingin ambil repot.
Beberapa seniman yang aku handle--dari akun meme kampus, jurusan tata boga, teman sekelas, seniman performans, dan...apa ya. Semuanya unik. Aku suka dengan hasilnya. Ada yang dieksekusi di tempat, ada juga yang merupakan hasil refleksi, sehingga tinggal dipajang. Me-review buah campur tangan. Boleh juga.
Pertama, respon orang-orang tentang akun meme kampus. Terserah orang hendak merespon seperti apa. Memang hasil yang dicari adalah keabsurdan karena meme adalah keabsurdan yang disepakati oleh khalayak umum sebagai sesuatu yang merujuk pada suatu realita yang dihadapi, sehingga membentuk estetika yang diakui. Sama seperti hasilnya. Absurd tetapi terlihat ok. Hanya saja respon yang diberikan kurang sesuai, karena ada beberapa informasi yang kurang sehingga audiens asal saja menempelkan stiker yang berwarna seperti traffic light seenaknya. Tanpa berpikir dahulu, bagaimana pendapat mereka tentang akun meme kampus, minimal kampus mereka sendiri. Sebenarnya, sudah dititipkan kepada penanggung jawab karya. Bukan robot, pasti mengalami social exhaustion. Menghadapi segitu banyak manusia yang tidak dikenal, tiba-tiba mengajak bicara manusia yang berlagak audiens melihat karya.
Kedua, yang paling aku suka karena aku suka makan. Jurusan Tata Boga! Dengan makanan beraliran fusion-nya, menyihir para audiens yang kebanyakan dari panitia. Sebagian sedikit dari delegasi kampus untuk menyambung silaturahim katanya. Selain karena makanan yang disajikan gratis, sudah aku bilang-bilang jika akan ada aksi performatif alias demo masak. Judulnya aku pikirkan matang-matang. "RANCAKE BANA" (harus dibaca dengan logat Padang yang kental). Memadukan layered cake dengan isian daging rendang. Plain whipped cream sebagai penengah rasa manis dan gurih rempah yang kuat ditambah garnish yang fungsinya seperti kerupuk yang memiliki rasa asin yang kuat. Semuanya berpadu dengan indah. Lamak bana! Coba bayangkan sendiri rasanya.
***
Banyak bulan telah berlalu. Susah memang untuk menghakimi diri sendiri. Coba saja jika menghakimi orang lain sesulit ini. Andaikan. Banyak kekurangan yang dilakukan saat meng-handle dan mencoba mengeksekusi konsep dan ide orang lain. Niatnya--konsepnya, ingin menjadikan non-seniman menjadi seniman selama waktu residensi. Namun, ego membuat kami (tim kurasi beranggotakan dua orang) untuk mengerjakan hampir semuanya. Terutama eksekusi. Tapi, memang seru untuk mencoba mem-breakdown ide orang--pengalaman estetika orang lain.
Beberapa seniman yang aku handle--dari akun meme kampus, jurusan tata boga, teman sekelas, seniman performans, dan...apa ya. Semuanya unik. Aku suka dengan hasilnya. Ada yang dieksekusi di tempat, ada juga yang merupakan hasil refleksi, sehingga tinggal dipajang. Me-review buah campur tangan. Boleh juga.
Pertama, respon orang-orang tentang akun meme kampus. Terserah orang hendak merespon seperti apa. Memang hasil yang dicari adalah keabsurdan karena meme adalah keabsurdan yang disepakati oleh khalayak umum sebagai sesuatu yang merujuk pada suatu realita yang dihadapi, sehingga membentuk estetika yang diakui. Sama seperti hasilnya. Absurd tetapi terlihat ok. Hanya saja respon yang diberikan kurang sesuai, karena ada beberapa informasi yang kurang sehingga audiens asal saja menempelkan stiker yang berwarna seperti traffic light seenaknya. Tanpa berpikir dahulu, bagaimana pendapat mereka tentang akun meme kampus, minimal kampus mereka sendiri. Sebenarnya, sudah dititipkan kepada penanggung jawab karya. Bukan robot, pasti mengalami social exhaustion. Menghadapi segitu banyak manusia yang tidak dikenal, tiba-tiba mengajak bicara manusia yang berlagak audiens melihat karya.
Kedua, yang paling aku suka karena aku suka makan. Jurusan Tata Boga! Dengan makanan beraliran fusion-nya, menyihir para audiens yang kebanyakan dari panitia. Sebagian sedikit dari delegasi kampus untuk menyambung silaturahim katanya. Selain karena makanan yang disajikan gratis, sudah aku bilang-bilang jika akan ada aksi performatif alias demo masak. Judulnya aku pikirkan matang-matang. "RANCAKE BANA" (harus dibaca dengan logat Padang yang kental). Memadukan layered cake dengan isian daging rendang. Plain whipped cream sebagai penengah rasa manis dan gurih rempah yang kuat ditambah garnish yang fungsinya seperti kerupuk yang memiliki rasa asin yang kuat. Semuanya berpadu dengan indah. Lamak bana! Coba bayangkan sendiri rasanya.
***
Maaf, ulasan ini tidak selesai dikerjakan dikarenakan ingatan-ingatan akan karya-karya tersebut mulai menguap. Namun, jika ada kesempatan untuk mengulik kembali. Akan saya lakukan.
Comments
Post a Comment