Seni dan Desain (Desain)
Nama sebuah jurusan di sebuah universitas negeri yang dikenal sebagai pemasok guru untuk daerah Jawa Timur dan sekitarnya. Jika agak diperluas, Indonesia bagian timur. Yang ingin saya bahas bukanlah tentang jurusan yang sekarang saya tempati, yang mengakui saya sebagai mahasiswa di situ. Mungkin nanti akan ada sedikit yang saya bahas tentang jurusan ini.
Tetap berkutat pada permasalahan seni dan desain di Kota Malang.
Saat ini, saya sedang menjalankan proyek, sebenarnya banyak sih, tapi ini salah satunya. Pemetaan studio-studio desain grafis di Malang. Selain dalam rangka untuk menjalankan tugas KMDGI, juga berniat membantu riset dosen yang dikenal sangat sibuk yang membahas tentang alasan mengapa desainer yang menempuh kuliah di Kota Malang lebih ingin bekerja di luar Malang. Sebenarnya, saya sudah tahu beberapa jawaban. Tetapi, tetap saja data valid sangatlah diperlukan untuk mengukuhkan hipotesa-hipotesa yang aku dapatkan setelah berbincang dengan kakak tingkat yang telah menjalani program magang di studio-studio yang terkenal di luar kota sana, terutama di poros seni dan desain Indonesia: Jakarta, Bandung, dan Jogjakarta.
Omong-omong tentang rumusan masalah yang diajukan oleh bapak dosen, ada satu hal yang mungkin benar-benar diabaikan oleh banyak desainer berpengalaman yang ada di Malang, yaitu pentingnya pertumbuhan seni yang nantinya juga akan menunjang perkembangan desain di Malang. Bisa dari selera konsumen (ini yang utama), hingga banyaknya karakteristik desain yang ditawarkan oleh studio-studio yang ada.
Mengapa demikian? Agar lebih mudah dalam menulisnya dan menandai masalah-masalahnya, akan aku jelaskan dalam bentuk poin-poin.
Mari memperlebar poin-poin di atas. Poin ①, kurang lebih sama seperti yang dibahas di unggahan beberapa waktu yang lalu (https://nisrina-aulia.blogspot.com/2018/11/menelisik-estetika-pemuda-pemudi-kota.html). Di unggahan tersebut, saya menyebutkan beberapa alasan mengapa selera estetika pemuda-pemudi Kota Malang seperti itu. Seni, bisa saja seni rupa, seni musik, seni tari, seni teatrikal, semuanya! Secara tidak sadar akan membentuk pengalaman-pengalaman visual, audio, dan kesan yang akan dipendam sementara dalam beberapa waktu, lalu diekspresikan melalui berbagai metode eksekusi. Kita sebagai desainer, mungkin karena tuntutan pekerjaan, terlalu menuruti keinginan klien.
Perlu diketahui wahai desainer, periode kali ini, salah satu anggota Dewan Kesenian Jakarta dalam Komite Seni Rupa adalah seorang desainer grafis! Bapak Danton Sihombing, merupakan penulis buku "Tipografi dalam Desain Grafis" (http://dgi.or.id/directory/danton-sihombing). Coba bacalah artikel yang disuguhkan oleh Desain Grafis Indonesia (DGI) tentang persimpangan seni rupa dan desain grafis (http://dgi.or.id/read/kembali-ke-satu-seni-rupa.html).
Perkembangan seni, secara tidak langsung akan memengaruhi perkembangan desain. Kesadaran akan estetika, isu-isu di sekitar akan lebih mudah ditangkap karena adanya peran seni yang di era kontemporer ini yang lebih berfungsi sebagai media untuk menyampaikan persepsi atau permainan persepsi. Namun, yang masif di Kota Malang, sekedar refleksi emosi sesaat. Masih modern bukan? Walau pun, ada beberapa orang yang mengakui dirinya adalah pegiat post-modernisme, tetap saja. Masih di eksekusi dalam bentuk yang modern.
Dengan bentuk yang masih modern, secara tidak langsung berimbas pada perkembangan desain di Kota Malang. Kaku. Terlalu mengikuti peraturan. Tidak berani keluar batas. Baik klien, maupun desainer. Faktor ini lah yang membentuk poin ②.
Poin ③, topik yang sensitif mungkin bagi sebagian besar desainer di kotaku yang kucinta. "Graphic design saves the world!" itu yang mereka percaya. Pendekatan-pendekatan humanis yang cenderung melawan beberapa teori-teori desain yang kaku dianggap sebuah pembangkangan. Padahal, akhir-akhir ini pendekatan yang humanistik memenangkan perhatian audiens. Padahal, banyak permasalahan yang tidak bisa dipecahkan dengan desain grafis. Karena keangkuhan tersebut, konsekuensi visual masih belum terbentuk.
Ingin berbagi, tapi masih malu untuk bring it up on the surface karena banyak yang lebih ahli. Sekian dulu.
Tetap berkutat pada permasalahan seni dan desain di Kota Malang.
Saat ini, saya sedang menjalankan proyek, sebenarnya banyak sih, tapi ini salah satunya. Pemetaan studio-studio desain grafis di Malang. Selain dalam rangka untuk menjalankan tugas KMDGI, juga berniat membantu riset dosen yang dikenal sangat sibuk yang membahas tentang alasan mengapa desainer yang menempuh kuliah di Kota Malang lebih ingin bekerja di luar Malang. Sebenarnya, saya sudah tahu beberapa jawaban. Tetapi, tetap saja data valid sangatlah diperlukan untuk mengukuhkan hipotesa-hipotesa yang aku dapatkan setelah berbincang dengan kakak tingkat yang telah menjalani program magang di studio-studio yang terkenal di luar kota sana, terutama di poros seni dan desain Indonesia: Jakarta, Bandung, dan Jogjakarta.
Omong-omong tentang rumusan masalah yang diajukan oleh bapak dosen, ada satu hal yang mungkin benar-benar diabaikan oleh banyak desainer berpengalaman yang ada di Malang, yaitu pentingnya pertumbuhan seni yang nantinya juga akan menunjang perkembangan desain di Malang. Bisa dari selera konsumen (ini yang utama), hingga banyaknya karakteristik desain yang ditawarkan oleh studio-studio yang ada.
Mengapa demikian? Agar lebih mudah dalam menulisnya dan menandai masalah-masalahnya, akan aku jelaskan dalam bentuk poin-poin.
- Mengabaikan bahwa perkembangan seni memberikan pengaruh pada selera konsumen
- Desainer
di Kota Malanghanya main aman - Desainer
di Kota Malangterlalu mensupremasikan desain grafis
Mari memperlebar poin-poin di atas. Poin ①, kurang lebih sama seperti yang dibahas di unggahan beberapa waktu yang lalu (https://nisrina-aulia.blogspot.com/2018/11/menelisik-estetika-pemuda-pemudi-kota.html). Di unggahan tersebut, saya menyebutkan beberapa alasan mengapa selera estetika pemuda-pemudi Kota Malang seperti itu. Seni, bisa saja seni rupa, seni musik, seni tari, seni teatrikal, semuanya! Secara tidak sadar akan membentuk pengalaman-pengalaman visual, audio, dan kesan yang akan dipendam sementara dalam beberapa waktu, lalu diekspresikan melalui berbagai metode eksekusi. Kita sebagai desainer, mungkin karena tuntutan pekerjaan, terlalu menuruti keinginan klien.
Perlu diketahui wahai desainer, periode kali ini, salah satu anggota Dewan Kesenian Jakarta dalam Komite Seni Rupa adalah seorang desainer grafis! Bapak Danton Sihombing, merupakan penulis buku "Tipografi dalam Desain Grafis" (http://dgi.or.id/directory/danton-sihombing). Coba bacalah artikel yang disuguhkan oleh Desain Grafis Indonesia (DGI) tentang persimpangan seni rupa dan desain grafis (http://dgi.or.id/read/kembali-ke-satu-seni-rupa.html).
Perkembangan seni, secara tidak langsung akan memengaruhi perkembangan desain. Kesadaran akan estetika, isu-isu di sekitar akan lebih mudah ditangkap karena adanya peran seni yang di era kontemporer ini yang lebih berfungsi sebagai media untuk menyampaikan persepsi atau permainan persepsi. Namun, yang masif di Kota Malang, sekedar refleksi emosi sesaat. Masih modern bukan? Walau pun, ada beberapa orang yang mengakui dirinya adalah pegiat post-modernisme, tetap saja. Masih di eksekusi dalam bentuk yang modern.
Dengan bentuk yang masih modern, secara tidak langsung berimbas pada perkembangan desain di Kota Malang. Kaku. Terlalu mengikuti peraturan. Tidak berani keluar batas. Baik klien, maupun desainer. Faktor ini lah yang membentuk poin ②.
Poin ③, topik yang sensitif mungkin bagi sebagian besar desainer di kotaku yang kucinta. "Graphic design saves the world!" itu yang mereka percaya. Pendekatan-pendekatan humanis yang cenderung melawan beberapa teori-teori desain yang kaku dianggap sebuah pembangkangan. Padahal, akhir-akhir ini pendekatan yang humanistik memenangkan perhatian audiens. Padahal, banyak permasalahan yang tidak bisa dipecahkan dengan desain grafis. Karena keangkuhan tersebut, konsekuensi visual masih belum terbentuk.
Ingin berbagi, tapi masih malu untuk bring it up on the surface karena banyak yang lebih ahli. Sekian dulu.
Comments
Post a Comment