Perbedaan Persepsi Visual
Setelah beberapa bulan melakukan kegiatan yang "menyimpang"–mengikuti kelompok progresif yang punya nama, khususnya di Jawa Timur. Kelompok swasta yang dipimpin oleh seorang dosen ISI Yogyakarta. Takkan saya sebut apa namanya. Carilah sendiri.
Selama beberapa bulan ini saya menemukan beberapa jarak yang berbeda di antara seni rupa dan desain grafis. Meskipun ada peribahasa yang mengatakan buah takkan jauh dari pohonnya, namun peribahasa tersebut tak berlaku untuk kedua hal tersebut, yaitu seni rupa dan desain grafis.
Desain grafis adalah disiplin yang saya minati yang merupakan anak dari seni rupa. Seni rupa adalah induk dari semua disiplin seni atau desain yang berbasis visual. Meskipun disertai karya audio, tetap saja kaidah seni rupa berkuasa. Desain grafis menggunakan elemen dan prinsip seni rupa. Tetapi, arahnya lebih fungsional dibandingkan seni rupa. Di dalam desain grafis, walaupun gaya desain Anda dekonstruktif atau melawan teori golden ratio, jika melibatkan orang-orang awam (untuk dikonsumsi khalayak umum) kita tetap saja harus memperhatikan readibility dan/atau legibility suatu teks (kecuali untuk karya bebas).
Sedangkan seni rupa, mereka sangat bebas. Mau jadi apa–terserah mereka. Entah menjadi seseorang yang ekspresionis dengan ciri khas tebal-tipis garisnya dan gambar yang agak terabstraksi atau menjadi seseorang yang romantis, yang suka dengan segala sesuatu yang dramatis. Tak perlu dengar kata orang. Mereka bebas. Tidak perlu memperhatikan segmentasi, target, maupun posisi. Terserah. Kalau mau menggunakan ketiga hal tersebut agar pesan yang ingin disampaikan perupa tersampaikan dengan baik malah akan membuat karya semakin nendang, karena kita paham akan maksud yang disampaikan. Terjadi dialog tak langsung antara perupa dengan yang melihat.
Perbedaan yang saya temui selama beberapa bulan ini adalah perbedaan persepsi visual. Entah karena mereka tak paham dengan readibility dan temannya, legibility atau apa. Saya tidak tahu menahu. Karena saya masih tergolong awam dalam desain grafis, saya akan mencoba mengulik dengan ilmu seadanya dan teori seingatnya.
Di dalam tipografi, kita juga harus memahami layout, kerning, tracing, dan lain-lain. Karena hal-hal tersebut secara tidak sadar memengaruhi kenyamanan, kecepatan, dan kesanggupan kita untuk membaca pesan yang disampaikan. Terkadang, kerapian yang kaku demi keterbacaan yang tinggi kita pakai, agar khalayak umum dapat membaca pesan yang hendak kita sampaikan, walaupun sebenarnya kita (desainer) adalah seseorang yang cukup ekspresif menggunakan berbagai macam typeface dalam 1 kata untuk menekankan suatu pesan yang ingin kita sampaikan.
Entah itu memang karena desainer pada dasarnya adalah seseorang yang fungsional, tetapi sering bosan dengan sifat fungsional tersebut atau apa. Tidak tahu. Saya sedang mencari tahu juga.
Selama beberapa bulan ini saya menemukan beberapa jarak yang berbeda di antara seni rupa dan desain grafis. Meskipun ada peribahasa yang mengatakan buah takkan jauh dari pohonnya, namun peribahasa tersebut tak berlaku untuk kedua hal tersebut, yaitu seni rupa dan desain grafis.
Desain grafis adalah disiplin yang saya minati yang merupakan anak dari seni rupa. Seni rupa adalah induk dari semua disiplin seni atau desain yang berbasis visual. Meskipun disertai karya audio, tetap saja kaidah seni rupa berkuasa. Desain grafis menggunakan elemen dan prinsip seni rupa. Tetapi, arahnya lebih fungsional dibandingkan seni rupa. Di dalam desain grafis, walaupun gaya desain Anda dekonstruktif atau melawan teori golden ratio, jika melibatkan orang-orang awam (untuk dikonsumsi khalayak umum) kita tetap saja harus memperhatikan readibility dan/atau legibility suatu teks (kecuali untuk karya bebas).
Sedangkan seni rupa, mereka sangat bebas. Mau jadi apa–terserah mereka. Entah menjadi seseorang yang ekspresionis dengan ciri khas tebal-tipis garisnya dan gambar yang agak terabstraksi atau menjadi seseorang yang romantis, yang suka dengan segala sesuatu yang dramatis. Tak perlu dengar kata orang. Mereka bebas. Tidak perlu memperhatikan segmentasi, target, maupun posisi. Terserah. Kalau mau menggunakan ketiga hal tersebut agar pesan yang ingin disampaikan perupa tersampaikan dengan baik malah akan membuat karya semakin nendang, karena kita paham akan maksud yang disampaikan. Terjadi dialog tak langsung antara perupa dengan yang melihat.
Perbedaan yang saya temui selama beberapa bulan ini adalah perbedaan persepsi visual. Entah karena mereka tak paham dengan readibility dan temannya, legibility atau apa. Saya tidak tahu menahu. Karena saya masih tergolong awam dalam desain grafis, saya akan mencoba mengulik dengan ilmu seadanya dan teori seingatnya.
Di dalam tipografi, kita juga harus memahami layout, kerning, tracing, dan lain-lain. Karena hal-hal tersebut secara tidak sadar memengaruhi kenyamanan, kecepatan, dan kesanggupan kita untuk membaca pesan yang disampaikan. Terkadang, kerapian yang kaku demi keterbacaan yang tinggi kita pakai, agar khalayak umum dapat membaca pesan yang hendak kita sampaikan, walaupun sebenarnya kita (desainer) adalah seseorang yang cukup ekspresif menggunakan berbagai macam typeface dalam 1 kata untuk menekankan suatu pesan yang ingin kita sampaikan.
Entah itu memang karena desainer pada dasarnya adalah seseorang yang fungsional, tetapi sering bosan dengan sifat fungsional tersebut atau apa. Tidak tahu. Saya sedang mencari tahu juga.
Comments
Post a Comment